Jumat, 10 Juli 2009

kanan dan kiri




Kanan dan kiri, kadang kita sebagai seorang manusia yang beriman dan beradab tidak seberapa mempermasalahkan perkara ini. Makan dengan tangan kanan, minum pake tangan kanan, ada juga yang pake tangan kiri, ngupil tangan kiri, garpu tangan kiri, kopling tangan / kaki kiri, gas tangan / kaki kanan dan masih banyak lagi aktivitas keseharian kita yang berkaitan dengan kanan dan kiri, baik dilakukan secara sendiri-sendiri maupun oleh kedua tangan.

Pembaca yang budiman,……
Terlepas dari rutinitas kita sehari-hari yang selalu berhubungan kanan dan kiri, mengapa hal ini menjadi sebuah bahasan penting ketika kita beriman dan berislam…???

Al Yamin (kanan) berasal dari al yumn yang berarti kebaikan (al khair) dan keberkahan (al barakah). Al Yamin dalam bahasa orang-orang Arab, yaitu bahasa Al-Qur’an, digunakan untuk menunjukkan kebaikan. Dan orang-orang yang mencapai kedudukan yang terhormat disebut dengan ahlul yamin (ahli kebaikan). Ada pendapat yang menyatakan bahwa Allah SWT menyimpan suatu kekuatan pada sebelah kanan yang tidak terdapat pada sebelah kiri.

Oleh karena itu, Al-Qur’an menyebut ahlul yamin dalam surah Al-Waqiah, “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air tercurah, dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqiah: 27-33)

Sedangkan tentang ashab asy-syimal (kelompok kiri), Al-Qur’an berkata: “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angina yang amat panas dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waqiah: 41-44)

Adapun tentang orang yang berhasil mendapatkan surga, ia berkata, “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya (catatan amal perbuatannya) dari sebelah kanan, maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku [ini].’ Sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, [kepada mereka dikatakan] : ‘makan dan minumlah dengan sedap sebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqaah: 19-24)

Dan tentang penghuni neraka, ia berkata, “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku [ini], dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’[Allah berfirman: ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.]’ Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Haqqah: 25-31) dikutip dari “Yas’alunaka (Tanya jawab lengkap tentang agama dan kehidupan) penerbit Lentera”

Pembaca yang budiman,……

Penulis berharap kita tidak lagi menyepelekan perihal menggunakan kanan dan kiri kita ketika beraktivitas. Karena bisa jadi kebiasaan kita yang sering menggunakan tangan kiri dan mengabaikan perintah ini, kita jadi melupakan kemuliaan tangan kanan kita. Kita bisa saja merasa nyaman dengan tangan kiri kita karena kita telah terbiasa, padahal jika kita mau berpikir lebih jauh maka ketika kita beraktivitas yang baik dengan tangan kiri menjadi amalan yang tidak memberikan keberkahan sebagaimana diterangkan di atas. Sebagai contoh misalnya ketika seorang kakak yang sepatutnya memberikan teladan kepada adiknya namun, ia minum air putih di depan adiknya dengan tangan kiri berdiri pula. Lalu oleh adiknya ini diikuti dan diajarkan kepada anak cucunya. Maka apa yang akan terjadi selanjutnya? 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya? Penulis yakin, pembaca sudah dapat memperkirakannya. Benar sekali, jadi selama kurun waktu itulah kakak beradik beserta anak cucunya tidak mendapatkan keberkahan dari air minumnya!!

Maka alangkah baiknya jika aktivitas-aktivitas yang kita lakukan selama ini masih sering mengabaikan menggunakan tangan kanan, mulai saat ini dan setelah membaca artikel ini kita kembali kepada adab-adab yang mulia sebagaimana Nabi SAW lakukan yaitu mendahulukan yang kanan untuk kebaikan…

Read More..

Rabu, 19 November 2008

“PIARA JENGGOT, WHY NOT!!!”

“PIARA JENGGOT, WHY NOT!!!”

Tidak sdikit orang yang tertarik untuk memelihara dan memanjangkan jenggotnya – meski yang mencukurnya sampai licin jauh lebih banyak – dengan berbagai alasan.
Entah karena artis idolanya berjanggot, atau pun karena kesadaran bahwa itu adalah tuntunan agama, sebagaimana yang tampak pada sebagian besar pemuka-pemuka agama.
Namun ceritanya akan sangat berbeda, ketika yang berjenggot itu adalah orang yang menampakkan komitmennya terhadap syariat Islam. Contoh yang paling menonjol selain jenggot adalah pakaian yang tidak isbal (tidak memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki). Kemana saja mereka melangkahkan kaki, pandangan penuh kecurigaan dari para petugas keamanan akan terus mengawasi mereka. Akibatnya, tak heran, pernah terjadi di Makasar, salah seorang aktifis dakwah yang sedang bersepeda sambil membawa kantongan plastik berisi buku-buku yang baru saja dibelinya dari salah satu toko buku dikejar oelh seorang anggota polisi dengan motor pemburu. Kemudian, ia ditanya, “Apa isi kantong itu?” Pasalnya sederhana, aktivis ini berjenggot dan celananya “tergantung”.
Subhanallah! Ada apa dengan jenggot? Apaka di mata mereka jenggot telah berubah menjadi serabut-serabut kabel yang dapat digunakan untuk merangkai bom? Apa yang dilakukan oleh janggot, sedangkan seekor lalat saja tidak bisa mengusik ketenangan?!

Apa Sih Jenggot?
Jenggot adalah rambut yangtumbuh pada kedua pipi dan dagu. Jadi semua rambut yang tumbuh pada dagu, di bawah tulang rahang bawah, pipi dan sisi-sisi pipi disebut jenggot, kecuali kumis.

Wajib Dong!
Hukum memelihara jenggot adalah sunah,. Namun, ada pula yang mengatakan wajib, yaitu bagi laki-laki, baligh, dan berakal karena Nabi saw telah mewajibkannya, memerintahkan untuk memeliharanya, serta melarang mencukurnya.

Perintah Rasululloh saw
Nabi saw bersabda, yang artinya,
“Cukurlah kumis dan periharalah jenggot.”(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
“Pangkaslah kumis dan peliharalah jenggot.”(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
“Selisihilah orang-orang musrik, biarkanlah jenggot kalian lebat dan cukurlah kumis.”(Riwayat Al-Bukhari)

Dilarang dicukur lho
Larangan tak hanya larangan, namun ada hal-hal yang mendasari :
@Mengubah ciptaan Allah
Allah berfirman, menceritakan perkataan iblis, “Sungguh aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah). Maka mereka benar-benar mengubahnya”(An Nisaa:119)
Ini merupakan sebuah nash tegas yang menunjukkan bahwa mengubah ciptaan Allah tanpa izin dari syara (syariat) adalah sebuah ketaatan kepada setan. Tidak diragukan lagi bahwa mencukur jenggot termasuk mengubah ciptaan Allah yang disukai dan disuruh oleh setan. Nabi bersabda, “Allah melaknat orang yang menato, orang yang minta ditato, orang yang mencabut bulu wajah/alis, orang yang minta agar bulu wajahnya dicabut, dan orang-orang yang merenggangkan gigi untuk kecantikan, (yaitu) orang-orangyang mengubah ciptaan Allah.”(Riwayat Al Bukhari dan Muslim)
Jadi, semua perbuatan di atas termasuk mengubah ciptaan Allah. M,encukur jenggot adaalh termasuk sikap tidak mau menerima ciptaan Allah, padahal Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling indah dan sempurna.

@Menyelisihi perintah Nabi
dalam ilmu ushul fiqh, dinyatakan bahwa larangan adalah tuntutan untuk tidak berbuat. Larangan untuk mencukur jenggot terdapat dalam bentuk perintah, semisal sabda Nabi saw “…biarkanlah!”, atau “…peliharalah!”, atau “…lebatkanlah!”
Seluruh bentuk perintah itu merupakan bentuk perintah yang tegas. Bentuk perintah menunjukkan kewajiban mengikuti apa yang diperintahkan. Artinya, orang yang melaksanakannya diberi pahala dan yang meninggalkannya akan mendapat hukuman. Dalam kaidah ushul fiqh, dinyatakan bahwa perintah pada dasarnya wajib dilaksanakan kecuali jika ada indikasi yang mengubah maknanya dari makna lahir lafadznya (makna sesungguhnya). Dalam masalah ini, yang ada hanyalah indikasi-indikasi yang menegaskan kewajiban berjenggot, dari sini dapat kita ketahui bahwa mencukur jenggot merupakan pelanggaran nyata terhadap perintah Rasulullah saw.
Allah swt menyatakan,
“Barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batasan-batasan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dan ia kekal di dalamnya.”(An Nisaa’ : 14)

@Menyerupai orang kafir
Nabi saw bersabda,
“Selisihilah orang-orang musyrik…”, “Selisihilah orang-orang Majusi…”, “selisihilah ahli kitab…”. Nabi saw telah menyatakan bahwa mencukur jenggot termasuk kebiasaan orang-orang musyrik yang mesti diselisihi orang-orang Islam. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk golongan mereka.” (Riwayat Abu daud, shahih)
Mencukur jenggot pada saat ini merupakan simbol, kebiasaan, dan tradisi kebanyakan orang kafir yang telah mennulari orang Islam. Nabi saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan kerbiasaan orang kafir.”(Shahih Al Jami no 5439)

@Menyerupai wanita
Jenggot merupakan salah satu pembeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga mencukurnya merupakan tindakan menyerupai wanita. Sedangkan laki-laki yang menyerupai wanita terlaknat berdasarkan hadist, “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”

@Menyelisihi fitrah
Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam);sesuai Fitrah Allah, Disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”(Ar Ruum :30)
Nabi saw bersabda, “Sepuluh hal termasuk fitrah; menggunting kumis, memelihara jenggot…”(Riwayat Muslim)
Fitrah disini bermakna sunah (tradisi). Fitrah yang dimaksud adalah bentuk azali (awal/asal) hamba-hamba Allah saat pertama kali diciptakan. Allah SWT tabiatkan manusia melakukanya, cenderung kepadanya, menganggapnya sebagai suatu hal yang indah, dan meninggalkan hal yang bertolak belakang dengan fitrah tersebut. Jadi, memelihara jenggot merupakan perkara fitrah yang ditetapkan pada seluruh keturunan Adam.

@Kedurhakaan terang-terangan
Cukur jenggot merupakan kedurhakaan yang dilakukan secara terang-terangan, padahal Rasulullah saw bersabda, “Setiap umatku dosanya akan diampuni kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan,”(Riwayat Muslim)

Mereka pun berjenggot
Memelihara jenggot adalah sebuah fitrah yang diamalkan oleh para nabi dan rasul, para sahabat, dan orang-orang shalih. Di dalam Al Qur’an dikisahkan, “Dia (Harun) menjawab, “Wahai putera ibuku! Jangan engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.”(Thoha :94)
Ibnu Hajar berkata, “Memelihara jenggot adalah peninggalan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, sebagaimana beliau mewariskan wajibnya jenggot, maka demikian pula dengan wajibnya khitan.”(Fathul Bari 10/335)
Demikian pula, banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw dan para sahabat beliau serta para tabi’in memiliki jenggot yang pada umumnya lebat. Nah, yang jadi pertanyaannya adalah jika mereka hidup di jaman sekarang ini, apakah mereka juga dicurigai dan dituding sebagai teroris?

Persepsi Madzhab
Madzhab Abu Hanifah, Ibnu Abidin (seorang pengikut Imam Hanafi) mengatakan, “diharamkan bagi laki-laki memotong jenggot.” Madzhab Imam Malik, Al Adawi menukil perkataan Imam Malik, “Hal itu (mencukur jenggot) merupakan perbuatan orang-orang Majusi.”
Madzhab Syafi’I, dalam kitabnya, Al Umm, Imam Syafi’I menegaskan haramnya mencukur jenggot. Madzhab Imam Ahmad, Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan berbagai hadist shahih dan tidak ada seorang pun ulama yang membolehkannya.”

Anda yang Cukur Jenggot
Ketika Kisra (pengasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi saw, mereka menemui beliau dalam keadaan berjenggot tercukur dengan kumis yang lebat. Rasulullah saw tidak menyukai dan bertanya kepada keduanya, “Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?” keduanya berkata, “Rabb kami (tuan kami, Kisra) memerintahkan kami seperti ini.” Rasulullah saw bersabda, “Akan tetapi, Tuhanku menyuruhku untuk memelihara jenggotku dan menggunting kumisku.” (Riwayat Thabrani, hasan)

Anda yang Pelihara Jenggot
Derasnya terpaan gelombang fitnah, pandangan-pandang penuh curiga dari aparat keamanan maupun masyarakat awam, berbagai tuduhan, bahkan pencidukan tanpa alasan dan bukti yang jelas telah membuat kaum muslimin yang pada awalnya komitmen dalam menghidupkan sunnah, akhirnya surut dan mundur teratur dari medan dakwah. Sedikit demi sedikit, identitas ke-Islam-mannya mulai ditanggalkan, kembali menjadi “Islam biasa” (padahal, Islam biasa adalah Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, tidak ditambah-tambah dan dikurangi). Karena itu , dalam menghadapi fitnah ini, kita hendaknya senantiasa bersabar dan merenungi firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajadnya) jika kamu orang yang beriman.”(Ali Imran : 139)
Wallahul Musta’an wa ilahil Musytaka. Wallahu ‘alam. (Syahrul Qur’ani)

Read More..

Kesabaran berbuah singa

Dalam kitab al-kabair, imam Adz-Dzahabi meriwayatkan kisah orang shalih yang memiliki saudara. Suatu saat ketika ia berkujung, ia disambut istri saudaranya itu dengan kasar dan tidak sopan.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu datang sambil menuntun seekor singa yang di atas punggungnya terdapat seikat kayu bakar.
Kemudian ia mempersilakan tamunya masuk sedang istrinya masih terus mengomel. Setelah makan, tamunya itu pamit pulang dengan penuh heran atas kesabaran saudaranya pada perlakuan istrinya.
Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Ketika mengetuk rumah saudaranya, dari dalam terdengar suara istri saudaranya, “siapa di luar?” Ia menjawab, “Saya saudara suamimu.” Wanita itu berkata lagi, “Selamat datang, harap menunggu sebentar, insya Alloh ia akan datang dangan selamat.” Orang itu kagum pada tutur kata istri saudaranya yang lembut dan sopan itu. Tak lama kemudian, saudaranya datang sambil memikul kayu bakar. Bertambah heranlah ia melihat kejadian itu.
Setelah mengucap salam, pemilik rumah mempersilakan masuk tamunya. Tak lama kemudian istri saudaranya itu menghidangkan makanan dengan sopan.
Ketika akan pulang, ia berkata, “Wahai saudaraku, jawab dengan jujur. Setahun yang lalu ketika aku mengunjungimu, kudengar kata-kata istrimu yang kasar. Lalu aku melihatmu datang dengan seekor singa yang selalu menuruti perintahmu membawa kayu bakar. Sedang kini kudengar tutur kata istrimu yang sopan, namun aku melihatmu membawa kayu bakar sendirian.”
Saudaranya menjawab, “Wahai saudaraku, istriku yang cerewet itu sudah wafat. Dulu ketika kami hidup bersama, aku selalu bersabar dan memaafkan segala prilakunya yang buruk padaku. Karena Alloh menjinakkan seekor singa agar membantuku membawa kayu bakar, setelah menikah dengan istri keduaku yang shalih, aku hidup bahagia dan singa itu meninggalkanku.”

Read More..

Rabu, 15 Oktober 2008

Kesaksian Dua Ekor Burung

Suatu ketika Abu Nashr Ibnu Maryam makan bersama seorang tokoh pemuka suku Kurdi. Lalu, kepada orang Kurdi itu dihidangkan dua ekor burung panggang. Yang mengherankan, saat orang Kkurdi itu melihat dua ekor burung panggang itu tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak. “Ha, ha, ha,…” Abu Nashr terheran-heran dengan perilaku orang Kurdi tersebut. Ia segera bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang membuatmu tertawa?”
Ia menjawab,”Begini wahai saudaraku, dulu saat aku masih muda aku pernah menjadi penyamun. Suatu ketika seorang pedagang yang kaya raya lewat di hadapanku. Aku melihatnya membawa harta yang begitu banyak. Aku pun menangkap dan merampok semua hartanya. Tatkala aku akan membunuhnya, ia memohon agar aku melepaskannya.
Namun, aku tetap ingin membunuhnya. Saat ia sadar bahwa tak ada lagi jalan untuk menghindari kematian, ia melongok ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya melihat dua ekor burung yang bertengger di dahan pohon yang rindang di sekitar tempat kami berada. Ia berkata, “Wahai dua ekor burung, jadilah kalian saksi bahwa ia membunuhku secara zalim.” Tanpa menunggu lama aku menebas lehernya hingga terbunuh.
Karenanya, ketika melihat dua ekor burung panggang ini, aku teringat akan kebodohan pedagang itu yang menjadikan dua ekor burung sebagai saksinya. Ha, ha, ha,…” orang Kurdi itu tertawa dengan penuh kemenangan. Namun, ia lupa bahwa sebenarnya dialah yang bodoh. Ia tidak sadar sudah mengakui perbuatannya.
Mendengar itu, Abu Nashr berkata,”Demi Alloh, kedua burung itu telah memberikan kesaksian atas perbuatanmu melalui mulutmu sendiri”. Abu Nashr menyuruh algojo menebas lehernya sebagai bentuk qishash atas kezalimannya membunuh orang lain.

Read More..

Selasa, 14 Oktober 2008

GET CLOSER WiTh ﷲﺍ

Seseorang yang mengenal Allah akan merasakan kehidupan yang lapang walaupun bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia seorang yang miskin, ia akan sabar, sebab ia tahu bahwa dibalik kehidupan yang fana ini ada kehidupan yang abadi, muara segala kenikmatan. Seandainya ia seorang yang kaya, ia akan bersyukur, sebab harta yang ada padanya hanyalah titipan Allah. Panorama kehidupan yang indah terangkum dalam hadits Rosululloh : ‘Amat mengherankan terhadap urusan orang mukmin, seandainya baik hal itu terdapat kecuali pada orang mukmin, bila ia ditimpa musibah ia sabar dan bila diberi nikmat ia bersyukur.’ (HR. Muslim)
Tidak akan tercapai sebuah tujuan tanpa prosees. Maka mengenal Allah pun butuh proses. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah gugusan jalan untuk mengenal Allah. Secara umum jalan-jalan untuk mengenal Allah sebagai berikut:
1. Akal
Akal yang diciptakan Allah sebagai pelengkap kehidupan manusia adalah alat yang hebat untuk memahami ayat-ayat qauniyah (tanda-tanda di alam semesta) dan ayat-ayat qauliyah (firman Allah). Banyak sekali fenomena di alam ini sebagai qauniyah-Nya yang menunjukkan kebesaran Allah :
@ fenomena terjadinya alam
Setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, begitu pula alam semesta ini, tentu ada yang menciptakan. Lihatlah gunung hijau yang kokoh berdiri, aliran sungai yang semuanya bermuara ke laut, langit yang tegak tanpa tiang, planet yang beredar penuh keteraturan ... mungkinkah semuanya ada dengan sendirinya...???
‘apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun atau apakah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu?’(QS. Ath-Thuur : 35-36).
@ fenomena hikmah
Mengapa bibir-bibir unta terbelah? Banyak hikmah dibalik semua ini, di antaranya adalah untuk membantunya memakan tumbuh-tumbuhan padang pasir yang berduri dan keras. Kakinya pun sesuai dengan daerah berpasir, sehingga ia tak mengalami kesulitan. Bulu matanya panjang bagaikan jaring bisa melindungi kedua matanya dari debu. Berjuta segala sesuatu di bumi ini yang menunjukkan adanya Allah Yang Mencipta Hikmah. ‘Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi ini yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya?’(QS. Yunus : 105).
@ fenomena pengabulan do’a
Manusia yang penuh kelemahan akan menemui saat-saat dimana ia tidak mungkin bergantung pada siapapun kecuali Allah. Baik muslim maupun karfir, ketika menghadapi hal-hal yang membahayakan ia pasti berdo’a. Saat do’a dikabulkan, adalah saat seharusnya manusia merenung tentang siapa yang mendengar dan mengabulkannya? (QS. 17:67, 10:22-23)
2. asma’ul husna
Jalan untuk mengenal Allah yang lain adalah dengan memahami asma-Nya. Pengetahuan dan keyakinan akan asma Allah, akan menambah keimanan seseorang. Bahwa Allah-lah yang memahami rezeki jutaan makhluk di langit (QS. 40:62) dan Allah-lah yang memahami rezeki jutaan makhluk di jagat raya ini. Hitunglah jumlah ikan di lautan, pernahkah serentak mereka mati karena satu hari tidak mendapatkan makanan? Ambillah segumpal tanah, amati jutaan mikroba yang hidup di atasnya, pernahkah siapa yang memberi rezeki mereka, setiap waktu, di setiap penjuru dunia? SubhanAllah dalam kekuasaan Allah-lah semua makhluk hidup, dalam ketentuan-Nya pula bagian rezeki mereka.
‘Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia Mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)’(QS. Hud: 6)

Read More..

Rabu, 24 September 2008

Gimana Caranya jadi MC?

Jadi MC (Master of Ceremony) adalah bukan hal yang sulit. Namun untuk melakukannya butuh keberanian dan mental yang tinggi. Kedua hal tersebut dapat muncul dengan sendirinya, yaitu apabila kita telah terbiasa berbicara di depan publik. Dan hal itu dapat kita mulai dari lingkup yang ter kecil, misalnya di depan teman-teman rohis.

Ada beberapa hal yang perlu kita kuasai dalam menjadi MC, selain kedua hal utama yang telah tersebut di atas, yaitu tata urutan acara yang akan diselenggarakan. Diantaranya adalah :

1. Salam

2. Mukadimah :

a. dalam bahasa Arab

Untuk mukadimah -pembukaan- dapat digunakan kalimah berikut :





atau bisa juga memakai :





a. dalam bahasa Indonesia :

1. Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah mempertemukan kita dalam keadaan sehat wal afiat.

2. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, karena hanya berkat beliaulah kita dapat menikmati indahnya Islam yang sekarang ini.

1. Pembukaan : untuk memulai acara kita pada hari ini, marilah kita buka dengan bacaan basmalah,… atau untuk memulai acara kita pada hari ini, bagi yang beragama lain, silahkan menyesuaikan dan bagi yang beragama Ialam, marilah kita buka acara ini dengan lafaz basmalah …

2. Membacakan susunan acara

3. Membimbing acara demi acara : demikianlah acara ……telah kita lewati. Acara selanjutnya adalah ……

4. Penutup : “acara demi acara telah kita lewati bersama. Dan akhirnya kita telah sampai pada penghujung acara. Marilah kita tutup acara ini dengan bacaan llafaz hamdalah ….”

5. Permintaan maaf : “Saya selaku pemandu acara, mohon maaf jika dalam bertutur kata ada hal-hal yang kurang berkenan di hati hadirin.”

6. Salam.

Read More..

Selasa, 23 September 2008

Read More..

Motor Bike 2

remember Allah